Batman Begins Background

Kamis, 23 Agustus 2018

Tolak Pembangunan Resort di Taman Nasional Komodo 

Taman nasional Komodo (TNK) atau yang sering disebut pulau komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara TimurIndonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.
Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagi obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata di yakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.
Pulau Komodo juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau RincaPulau Padar dan Gili Motang.




Saat ini masalah yang sedang hangat dibicarakan di tengah masyarakat yakni tentang dampak yang muncul akibat pembangunan resort di pulau habitat asli komodo ini. Tentunya ada sebagian masyarakat yang mendukung pembangunan ini dan ada juga pula masyarakat yang menolak untuk membangun sarana dan prasarana ini.

Alasan mengapa sebagian masyarakat mendukung adanya pembangunan ini karena mereka menganggap bahwa pembangunan ini tentu diperlukan sebagai sarana dan prasarana untuk mendukung kunjungan wisatawan, seperti toilet, tempat makan, dan lain-lain.

Sedangkan masyarakat yang menolak mereka menganggap bahwa tujuan Taman Nasional Komodo adalah konservasi.sedangkan rencana pembangunan lebih mengarah pada kepentingan investasi. Sehingga, apapun bentuk investasi yang terjadi dalam TNK, sudah jelas tidak lagi sesuai dengan tujuan awal.


"Oleh karena itu, Formapp dengan tegas menolak investasi untuk tujuan pengembangan pariwisata dalam TNK, karena sudah pasti menambah penderitaan dan kesengsaraan saudara-saudara kita yang hidup dalam kawasan TNK,"tegas Formapp melalui pernyataan tertulisnya. Sudah menjadi suatu yang tidak terbantahkan bahwa kehadiran TNK sejak tahun 80-an dengan jelas telah menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat, budaya, mata pencaharian yang sudah menjadi warisan lintas generasi penduduk dalam kawasan."

Mereka menilai, penguasaan atau pengelolaan pihak wisata atas titik-titik strategi dalam kawasan TNK tidak membawa manfaat apa-apa terhadap masyarakat yang berada dalam kawasan TNK. Masalah yang muncul justru terjadi privatisasi dan pencaplokan sumber daya publik atas lahan dalam kawasan TNK.

Menurut warga, kehadiran pihak swasta dalam pengelolaan kawasan strategis TNK akan menambah beban penderitaan bagi masyarakat dalam kawasan dan juga para pelaku usaha wisata lokal.

Seperti diketahui izin usaha yang diberikan kepada pihak swasta adalah izin usaha jasa dan sarana pariwisata alam, di mana pihak swasta tidak hanya akan merealisasikan proyek fisik seperti pengadaan villa dan menyediakan jasa pramuwisata, tetapi juga akses-akses terhadap jalur wisata akan dikontrol secara ketat.

"Jika ini yang terjadi, maka ragam usaha masyarakat setempat seperti homestay, penginapan, kapal wisata dan naturalist guide akan tersingkir dengan sendirinya," tegasnya.Proyek fisik seperti villa, homestay dan tempat publik fisik lainnya dalam kawasan TNK akan membawa dampak buruk pada keberlanjutan kealamiahan kawasan TNK. Ruang hidup dan penghidupan (habitat) satwa komodo dan hewan lainnya akan terganggu. Siklus dan rantai ekosistem alamiah akan rusak. Suasana alam yang liar akan menjadi bising dan berpolusi.




Ya itulah alasan mengapa agar pembangunan resort di TNK ini harus kita tolak. Semoga warisan dunia yang satu ini tetap terjaga kealamiannya bukannya menjadi lahan investasi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar